Dirut Angkasa Pura II Setuju Swasta Ikut Suplai Avtur Bandara



Direktur Utama Angkasa Pura II Budi Karya Sumadi mengaku setuju jika ada pihak swasta yang ikut menyuplai bahan bakar pesawat atau avtur di bandara Indonesia. Dukungan itu dilakukan agar maskapai penerbangan memiliki pilihan dalam hal penyuplai avtur yang selama ini dimonopoli oleh Pertamina. Diharapkan dengan adanya pihak swasta, harga avtur bisa turun signifikan.

Selama ini maskapai penerbangan mengeluhkan mahalnya harga avtur yang dijual oleh Pertamina dibandingkan dengan harga di negara-negara ASEAN lainnya. Tingginya harga avtur membuat biaya operasional maskapai penerbangan Indonesia membengkak. Pertamina pun kemudian merespon dengan menurunkan harga avtur. Sayangnya, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta masih lebih mahal 17 persen dibandingkan dengan harga avtur di Bandara Changi Singapura. Bahkan di Bandara Kuala Namu Medan harganya lebih mahal 36 persen. “Kalau bisa di sini ada kompetisi supaya harganya lebih baik,” tutur Budi.

Budi mengatakan, kondisi itu membuat Bandara Kuala Namu Medan yang digadang-gadang sebagai bandara transit penerbangan internasional menjadi sulit terlaksana. Maskapai penerbangan internasional lebih suka melakukan transit di Singapura atau Malaysia karena bisa mendapatkan avtur dengan harga murah. “Kalau disuruh ke Kuala Namu mereka (maskapai) kan mikir-mikir. Kalau dari Jakarta dia bisa transit di Singapura atau di Malaysia sehingga bisa menemukan avtur murah,” ujarnya.

Menurut Budi, mahalnya harga avtur yang dijual oleh Pertamina juga berpotensi menggagalkan renana Angkasa Pura II yang ingin menjadikan Bandara Soekarno-Hatta Jakarta sebagai hub penerbangan internasional dari dan menuju Australia. Padahal, Angkasa Pura II saat ini sedang menggarap pembangunan Terminal 3 Ultimate di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta sebagai cara untuk meningkatkan kapasitas penerbangan internasional. “Kalau di Soekarno-Hatta sudah cukup puas sebagai bandara destinasi sih OK, tapi kalau kami ingin menjadikannya hub di mana orang itu mau ke Australia lewat Soekarno-Hatta atau orang mau ke Eropa lewat situ mungkin susah,” kata dia.

Be the first to comment

Leave a Reply