Dilarang Merokok di Pesawat, Mengapa?



Peringatan “Dilarang merokok” saat ini sangat mudah dijumpai di mana saja termasuk di dalam pesawat. Banyak bahaya-bahaya merokok terhadap kesehatan manusia. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 50 persen, meningkatkan risiko aneurisma otak, kanker pada lidah, tenggorokan, bibir, dan pita suara, kanker paru-paru pneuminia dan kanker lambung. Selain itu, juga meningkatkan risiko osteoporosis dan mengganggu sistem reproduksi manusia seperti impotensi.

Lalu bagaimana sejarahnya mengapa dilarang merokok di pesawat? Larangan merokok di pesawat ini dipelopori di Amerika Serikat, di mana Federal Aviation Administration (FAA) pada tahun 1989 mengeluarkan larangan merokok di pesawat. Alasannya, semua benda yang mengeluarkan api bisa berbahaya bagi penerbangan. Semua pesawat dalam negeri maupun luar negeri harus memberitahu penumpang bahwa merokok di pesawat merupakan tindakan yang terlarang. Peraturan ini mulai diberlakukan secara luas kepada semua pesawat lokal dan asing yang terbang ke dan dari Amerika Serikat mulai tahun 1998.

Larangan ini kemudian diperkuat dengan Undang-undang Federal dari Departement of Transportation dan berlaku efektif mulai 4 Juni 2000. Peraturan ini juga menyebutkan, larangan ini bukan hanya berlaku saat pesawat sedang di udara, tetapi juga saat sedang berada di darat.

“Kemudian aturan ini digunakan oleh banyak maskapai baik domestik AS maupun yang luar negeri. Karena dinilai sangat positif, akhirnya aturan larangan merokok ini diadopsi oleh seluruh maskapai di dunia, termasuk di Indonesia,” ujar Muzaffar Ismail, Direkur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara dalam wawancara tertulis.

Apakah di setiap pesawat yang beroperasi di Indonesia memiliki alat pendeteksi asap jika ada penumpang yang merokok di pesawat? Menurut Muzaffar, berdasarkan CASR 25.854, setiap pesawat dengan kapasitas penumpang 20 orang atau lebih, harus memasang smoke detector system di setiap lavatory, dan harus dilengkapi fire extinguisher pada setiap disposal. “Pesawat harus dipasang placard atau passenger sign information at least one pleacard (25.791),” ujar Muzaffar.

Muzaffar juga menyebut, sanksi bagi penumpang yang merokok di pesawat diserahkan kepada masing-masing peraturan di perusahaan penerbangan.

Sementara itu, Corporate Communication Manager Citilink Indonesia Ageng W Leksono mengatakan, di setiap penerbangan Citilink Indonesia bebas asap rokok. Tidak ada kebijakan dari pihak maskapai untuk merokok di pesawat, baik itu di kabin maupun di kokpit.

“Jika nanti ditemui ada pelanggaran seperti itu maka akan kami tindak lanjuti. Kita tunduk dengan semua peraturan pemerintah dan penerbangan sipil,” ujar Ageng.

Foto: Fikri Izzudin Noor / IndoAviation.co.id

Be the first to comment

Leave a Reply