Diklat Bela Negara: 1.031 Remaja Asli Papua Belajar Masalah Terorisme dan Penerbangan



Foto: Reni Rohmawati

Pentingnya kesadaran bela negara bagi seluruh rakyat Indonesia terus digelorakan oleh Kementerian Pertahanan. Kali ini diadakan untuk mengujudkan terbentuknya Kader Muda Bela Negara di lingkungan pendidikan bagi Orang Asli Papua (OAP) Program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) bekerja sama dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Lebih dari seribu, tepatnya 1.031, calon mahasiswa dari beberapa kabupaten di Papua dan Papua Barat diberi pembekalan tentang bela negara. Sebelumnya, Kemenristekdikti mengevaluasi program ADik-OAP tahun 2012-2016 bahwa perlu pembekalan Pendidikan Bela Negara dalam meningkatkan nasionalisme dan karakter Pancasila.

“Bela negara itu penting dan merupakan roh suatu negara. Kalau ini hilang, rontoklah negara. Kegiatan ini juga untuk memperkuat negara dan bangsa dalam mengujudkan cita-cita bangsa,” ujar Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu di Pusdiklat Bela Negara Badiklat Kemhan Bogor, Rabu (19/7/2017).

Menhan pun mencontohkan bahwa di negara-negara besar, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, ditumbuhkan nasionalisme karena nasionalisme itu sangat penting.

Dalam kesempatan pemberian pembekalan dari Menhan, para remaja Papua terlihat antusias menanyakan berbagai hal. Dari masalah terorisme, kondisi keamanan di daerah mereka, narkoba, sampai keinginan untuk menjadi Presiden, kepala daerah, TNI dan Polri, bahkan pilot, mereka pertanyakan.

Tentang terorisme misalnya, Ryamizard mengatakan bahwa hal tersebut dapat ditangkal dengan kekuatan nasionalisme dan cinta negara melalui kegiatan bela negara. Begitu juga dengan narkoba, yang rupanya di Papua beberapa pemudanya suka “ngelem”. “Kalau ada yang begitu, mulutnya dilem saja. Itu kan bisa dikatakan narkoba,” ucapnya.

Kepada yang mempertanyakan, apakah warga Papua juga bisa menjadi penerbang atau pilot, Ryamizard menjawab semuanya memiliki kesempatan, termasuk menjadi pemimpin serta personel TNI dan Polri. “Tapi ada persyaratannya dan harus memenuhi persyaratan itu, walaupun agak ringan kalau untuk orang Papua,” tuturnya.

Namun tentu saja agak berbeda jika ingin jadi penerbang, baik sipil maupun militer. Ryamizard mengatakan, “Kalau ingin jadi penerbang TNI, syaratnya ketat. Kalau tidak, pesawatnya tidak ditembak pun bisa jatuh sendiri.”

Menurut Menhan, kegiatan bela negara, seperti yang berlangsung pada 18-24 Juli 2017 itu, memiliki nilai strategis dan menjadi prioritas, sehingga harus berlanjut setiap tahun. Terkait peserta dari Papua, hal ini sesuai dengan ketentuan Program ADik, yaitu keberpihakan Pemerintah pada putra-putri daerah 3T (terluar, terdepan, tertinggal) dan OAP untuk memperoleh pendidikan tinggi di perguruan tinggi negeri.

“Pembangunan Papua, termasuk SDM-nya merupakan prioritas Pemerintahan sekarang. Papua adalah Indonesia. Indonesia adalah Papua,” tegas Ryamizard.

Ryamizard pun berpesan agar calon-calon mahasiswa asal Papua pantang menyerah serta meningkatkan persaudaraan dan kekompakan. “Harus kompak agar merasa sehidup semati dengan teman-teman,” ucapnya.

 

Be the first to comment

Leave a Reply