Daya Saing Infrastruktur Transportasi Indonesia Peringkat 52 Dunia



Paparan Capaian Kerja 2017 dan Outlook 2018 "Kerja Bersama Membangun Bangsa" Kementerian Perhubungan. Foto: Reni Rohmawati

Daya saing infrastruktur transportasi Indonesia berada di peringkat 52 pada tahun 2017 versi World Economic Forum. Peringkat ini naik 10 tingkat dibandingkan dengan peringkat pada tahun 2015 di urutan 62. Hal ini dikatakan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi ketika menyampaikan capaian kinerja dan outlook Kementerian Perhubungan di Jakarta, Kamis (14/12/2017).

“World Economic Forum mencatat, peringkat daya saing infrastruktur transportasi Indonesia 2017 naik 10 tingkat dari tahun 2015 dengan nilai akhir 4,5,” kata Budi.

Dalam dua tahun tersebut, Kemenhub dengan serius membangun berbagai sarana dan prasarana infrastruktur transportasi, seperti terminal bus, pelabuhan laut dan penyeberangan, serta bandara dan fasilitas perkeretaapian. Hal ini, kata Menhub, dilakukan untuk memastikan konektivitas orang dan logistik nasional berjalan efektif.

Disebutkan, sektor perkeretaapian telah membangun jalur kereta api sepanjang 388,3 kilometer. Namun, kata Budi, pembangunan jalur kereta api ini belum maksimal. Kendalanya adalah salah satu industri tambang mengalami kemunduran. Walaupun demikian, Menhub memastikan bahwa sudah ada investor yang tertarik untuk membangun jalur kereta api tersebut.

Jalur kereta api yang panjang direncanakan dibangun dari Kalimantan Tengah ke Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah ke Kalimantan Timur, juga di Sumatera Selatan. “Jalur itu digunakan untuk kereta logistik; untuk mengangkut batu bara. Direncanakan sebagai proyek KPBU (Kerjasama Pemerintah Badan Usaha) dan sekarang ini (kondisi bisnis) batu bara belum begitu baik. Jadi, mereka belum mau mulai,” papar Budi.

Prasarana untuk angkutan logistik kereta api memang belum optimal, sementara prospek angkutannya menjanjikan. Tahun ini, Kemenhub mencatat, 23,4 ton logistik telah diangkut dengan kereta api. Untuk angkutan penumpang, tercatat 33,23 juta orang menggunakan moda angkutan kereta api. Sementara itu, pengguna KRL Jabodetabek terangkut 228,7 juta orang pada Januari-September 2017.

Sementara itu, sektor perhubungan darat sudah merehabilitasi 30 terminal bus. Program pembangunan bus rapid transit (BRT) tercapai 1.383 unit. Namun pencapaian ini dinilai belum optimal. “Bus akan kita optimalisasi dengan cara mengubah ukurannya karena kebutuhan BRT itu kita konsentrasikan di kota-kota tertentu dan di sekolah. Jadi, target bus akan tercapai,” ungkap Menhub.

Di sektor perhubungan darat juga telah dibangun 11 pelabuhan penyeberangan serta didatangkan delapan unit kapal penyeberangan. Pada moda angkutan penyeberangan ini tercatat 59,9 juta orang menggunakannya pada Januari-Oktober 2017. Di samping itu, sudah diseberangkan 8,03 juta kendaraan roda dua dan 3,9 juta kendaraan roda empat pada periode tersebut.

Di sektor perhubungan laut, 104 pelabuhan laut sudah dibangun dalam dua tahun ini. Didatangkan pula 33 kapal laut untuk perintis. Kemenhub mencatat, muatan logistik transportasi laut dalam negeri pada Januari-Oktober 2017 mencapai 18,3miliar ton dan muatan luar negeri dalam tahun 2017 mencapai 593juta ton. Sementara itu, PT Pelni telah mengangkut 3,16 juta orang, kargo 77.260 ton, dan kontainer 13.810 teus pada Januari-November 2017.

Di sektor perhubungan udara, sudah dibangun tujuh bandara baru sampai tahun ini. Di samping itu, telah direhabilitasi pula 30 terminal bandara. Kemenhub mencatat, proyeksi jumlah penumpang penerbangan domestik 96.050.330 orang dan penumpang penerbangan internasional 12.816.701 orang hingga akhir tahun ini.

Be the first to comment

Leave a Reply