Cureng, Tempur Latih Serbaguna dari Jepang



Cureng, atau Yokosuka K5Y merupakan pesawat latih bersayap ganda (biplane) yang memiliki dua kursi. Oleh Sekutu, pesawat ini diberi nama Willow. Di Jepang, pesawat ini dipergunakan oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada Perang Dunia II. Karena warna catnya yang orange, pesawat ini diberi julukan aka-tombo (capung merah).

Pesawat ini dibuat berdasarkan desain pesawat latih menengah Yokosuka Type 91, tetapi permasalahan stabilitas telah diperbaiki oleh Kawanishi pada tahun 1933. Mulai dipergunakan oleh AL Jepang pada tahun 1934 sebagai pesawat latih Angkatan Laut Type 93 Intermediate Trainer K5Y1 denganfixed tail-skid landing gear, dan tetap dipergunakan selama perang. Floatplane tipe K5Y2 dan K5Y3 juga diproduksi.

Di Indonesia, pada awalnya Cureng ditemukan hanya di Pangkalan Udara Maguwo (sekarang Lanud Adisutjipto), Yogyakarta dengan jumlah sebanyak 50 buah. Untuk memastikan kondisi pesawat tersebut atas perintah Kepala TKR (Tentara Keamanan Rakyat) jawatan Penerbangan, Suryadi Suryadarma, didatangkan teknisi dari Pangkalan Udara Andir (sekarang Lanud Husein Sastranegara), Bandung. Hal ini dikarenakan Pangkalan Udara Maguwo waktu itu tidak memiliki teknisi pesawat. Dari hasil pemeriksaan secara umum, semua pesawat tersebut dinyatakan dalam keadaan rusak, terkecuali tiga yang masih dalam keadaan lengkap. Ketiga pesawat Cureng ini merupakan pesawat yang siap terbang ketika terjadi perebutan pangkalan oleh BKR dan pasukan yang ada di Yogyakarta, namun batal karena kedatangan pasukan yang dipimpin oleh Soeharto. Hanya dalam waktu satu hari yakni tanggal 26 Oktober 1945, satu unit Cureng dapat diperbaiki dan dinyatakan siap untuk menjalani test flight setelah diberi tanda berupa lingkaran berwarna merah putih sebagai simbol bendera Republik Indonesia.

Test flight dilakukan pada 27 Oktober 1945 pada pukul 10.00. Test flight berlangsung selama 30 menit oleh Agustinus Adisucipto yang didampingi oleh Rudjito.   Dipilihnya Agustinus Adisutjipto untuk test flight ini karena ia mempunyai wing penerbang yaitu Groot Militaire Brevet. Namun, wing penerbang yang dimiliki adalah kualifikasi penerbang dengan pesawat Eropa, bukan pesawat Jepang. Penerbangan ini tercatat sebagai penerbangan pesawat dengan identitas merah putih yang pertama di Indonesia.

Setelah penerbangan pertama itu, para teknisi terus bekerja memperbaiki pesawat yang ada di Maguwo. Pada awal Januari 1946, para teknisi berhasil memperbaiki dan menyiapkan sebanyak 25 pesawat Cureng hingga siap terbang.  Pesawat Cureng tersebut kemudian menjadi kekuatan di Maguwo yang sekaligus menjadi kekuatan Sekolah Penerbangan yang dipimpin oleh Agustinus Adisutjipto, yang dibuka pada 15 November 1945.

Para penerbang Royal Air Force (RAF) yang pernah datang ke Yogyakarta m mengatakan, “You are flying coffin (Tuan menerbangkan sebuah peti mati)”. Hal ini dikarenakan pada tanggal 14 Januari 1946, salah satu pesawat Cureng mengalami kecelakaan, namun awak maupun penumpangnya selamat.

Kecelakaan pesawat tersebut ternyata tidak membuat ciut nyali para penerbang muda waktu itu. Dua hari setelah kecelakaan, pada 16 Januari 1946, satu pesawat Cureng diterbangkan oleh Suyono untuk melakukan tugas pengintaian di Laut Selatan. Misi pengintaian menggunakan pesawat Cureng itu merupakan perintah Agustinus Adisutjipto. Pesawat Cureng lepas landas dari Maguwo menuju Parangtritis, dan kemudian meneruskan ke arah selatan di atas Lautan Hindia. Dalam penerbangan itu, pesawat sempat masuk awan hitam tebal, sehingga penerbanganya sampai kehilangan orientasi (disorientasi). Peristiwa ini pun dicatat sebagai operasi penerbangan pertama dalam rangka misi pertahanan di Indonesia.

Setelah sukses dengan fungsi utamanya sebagai pesawat latih yang telah melahirkan beberapa penerbang AURI, pesawat Cureng tercatat sebagai pesawat pertama yang digunakan dalam latihan terjun payung (paratroops).  Latihan terjun payung pertama ini dilaksanakan tanggal 11 Februari 1946 di Maguwo atas perintah Suryadi Suryadarma yang saat itu menjabat sebagao kepala TKR jawatan Penerbangan.  Latihan terjun payung itu menggunakan 3 pesawat Cureng. Selain melaksanakan latihan terbang solo, pesawat Cureng juga digunakan untuk latihan terbang formasi dan cross country (lintas daerah). Latihan terbang formasi dan lintas daerah dilakukan pada tanggal 15 April 1946.

Pada 29 Juli 1947, Cureng digunakan untuk menyerang pasukan Belanda yang berkedudukan di kota Ambarawa dan Salatiga. Pesawat Cureng diterbang­kan oleh Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutardjo Sigit. Pesawat Cureng pernah digunakan dalam rangka penumpasan PKI. Waktu itu, sebuah pesawat Cureng digunakan oleh Kadet Udara I Aryono untuk membombardir kawasan Purwodadi atas permintaan Gubernur Militer Jawa Tengah Kolonel Gatot Subroto.  Pada tahun 1948, saat meletusnya pemberontakan PKI oleh Muso di Madiun, Cureng digunakan untuk penyebaran pamflet, dropping obat-obatan dan logistik bagi pasukan ABRI yang berada di daerah terpencil. Dalam menumpas pemberontakan PKI Muso pada bulan September 1948, Cureng mendapat tugas menyebarkan pamflet kepada masyarakat agar tidak mengikuti pemberontakan PKI dan mendukung pemerintah untuk membasminya. Setelah lama mengabdi di AURI, pesawat Cureng kemudian dipensiunkan. Salah satunya disimpan di Museum TNI Satria Mandala, Jakarta, pada tahun 1977.

Karakteristik umum dari Cureng yaitu, diawaki oleh dua penerbang; memiliki panjang 8,05 meter; bentang sayap 11 meter; tinggi 3,2 meter; luas sayap 27,7 meter persegi; bobot kosong 1.000 kg, berat maksumum lepas landas sebesar 1.500 kg; dan ditenagai sebuah mesin radial Hitachi Amakaze 11-9 silinder berpendingin udara sebesar 224 kW. Performa dari Cureng yaitu memiliki kecepatan maksimum 212 km/jam; kecepatan jelajah 138 km/jam; jarak jangkau 1.019 kilometer; dan ketinggian jelah 5.700 meter. Persenjataan yang mampu dibawa  yaitu 1× fixed, forward-firing 7.7 mm (.303 in) Type 89 machine gun dan 1× flexible, rearward-firing 7.7 mm (.303 in) Type 92 machine gun, serta bom dengan berat maksimum 100 kg (220 lb) di rak cadangan.

Foto: Fikri Izzudin Noor / IndoAviation.co.id

Be the first to comment

Leave a Reply