Capt Teddy Soekarno: Apakah Wamena Cocok Diterbangi Pesawat Jet?



Boeing 737-200 TRI MG tergelincir di Wamena. Foto: BKIP, Kemenhub.

Kecelakaan pesawat terbang terjadi lagi di Wamena, Papua. Kemarin Selasa (18/7/2017), pesawat Boeing 737-200 kargo milik Tri MG Asia Airline tergelincir ketika mendarat di Bandara Wamena.

Pesawat berregistrasi PK-YGG itu terbang dengan rute Timika-Wamena pada pukul 12.49 WIT (03.49 UTC). Laporan awal menyebutkan, pesawat mendarat dari landasan pacu 15 dalam kondisi cuaca surface wind 150/06KT dengan visibiliti 8km.

Kejadian tersebut mengundang keprihatinan para pelaku dan pemerhati penerbangan. Capt. Teddy Soekarno, salah satunya, mengatakan, intinya adalah di Wamena dalam dua tahun terakhir ini banyak terjadi insiden dan kecelakaan ketika mendarat (approach to land) atau take off. “Kebanyakan adalah approach to land,” ungkapnya.

Teddy pun mempertanyakan, bagaimana dengan fasilitas navigasi, marka, weather, ATC (Air Traffic Control), runway condition, dan lain-lain fasilitas pendukung penerbangan? “Bukan fasilitas terminal saja, tapi flight navaids, VFR approach chart, beacon, juga runway lighting walaupun siang hari. Banyak awan di sana. Kalau lewat saat pesawat approach, ya gelap,” tuturnya.

Menganalisis dari banyaknya kecelakaan itu, Teddy menggambarkan, “Mengapa saat pesawat berputar untuk landing selalu menyangkut di bukit atau gunung yang hanya berjarak kurang dari 1.000 meter dari ujung landasan?” Ia lantas melanjutkan, “Upaya dan solusinya itu lho, jangan berbanding dengan budget atau alasan lainnya.”

Dari sisi science, kata Teddy, ilusi pemanasan dari hutan juga menjadi salah satu penyebab mata pilot mendapat pengalihan (distracted). “Sampaikah KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) ke arah sana? Background mereka sudah membuat common sense mereka blank.”

Teddy pun lantas mempertanyakan, “Apakah Wamena cocok diterbangi pesawat jet? Karena Wamena berada pada suatu elevasi vs panjang runway. Apalagi pesawatnya sering overload karena ada urusan dagangnya.”

Di sisi lain, Teddy yang sudah puluhan tahun berkecimpung dan mengamati penerbangan itu sangat prihatin dengan kondisi kebanyakan pilot Indonesia sekarang. “Disiplin terbang para pilot kok sudah jauh memudar ya?”

1 Comment

  1. hampir semua accident terjadi diarea qpproach dan overshooting cause too high in threshold..Kejadian ini akibat pemaksaan saat approach in visibility below minima.Di runway yg high altitude engine power saat di open kqn laggging.Gak respon cepat.Harus kalkulasi ulang kemampuan penggunqan jet engine di Wamena .Ato.dilengkapi instrument landing paling tdk ILS plus radar service yg memadai

Leave a Reply