Bisnis Penerbangan Charter Justru Lesu di Musim Libur Akhir Tahun



Tidak seperti maskapai penerbangan berjadwal yang panen di musim liburan akhir tahun, bisnis penerbangan charter justru mengalami kelesuan. Bahkan omset penerbangan charter mengalami penurunan hingga 50 persen. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Bidang Penerbangan TIdak Berjadwal Denon Prawiraatmadja.

Denon mengatakan, permintaan penerbangan charter di musim liburan akhir tahun memang masih ada, tapi mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Permintaan jet charter masih ada, namun tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Holiday season tahun-tahun sebelumnya bisa lebih dari 120 jam per pesawat, holiday season tahun ini prediksi saya, setengahnya belum tentu dapat,” ujarnya.

Menurut Denon, dia menduga salah satu penyebab lesunya bisnis penerbangan charter karena nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tahun ini melemah cukup signifikan. Padahal tarif penerbangan charter ditetapkan dalam bentuk mata uang dolar Amerika Serikat. “Faktor penyebab pastinya saya belum tahu jelas, tapi kurang lebih ada kontribusi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang melemah signifikan. Saya rasa beberapa sektor bisnis yang kurang bergairah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya mungkin juga menurunkan budget liburan akhir tahun ini,” jelas dia.

Dia menambahkan, saat ini masih belum banyak masyarakat yang tahu kalau banyak maskapai penerbangan charter menawarkan layanan taksi udara menggunakan helikopter. Layanan taksi udara bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang enggan menembus kemacetan perjalanan darat seperti antara Jakarta dan Bandung. “Sampai sejauh ini permintaan heli charter masih minim sekali, mungkin kesadaran masyarakat belum banyak, saya rasa tahun-tahun depan bisa lebih banyak,” tambah Denon.

Foto: Tri Setyo Wijanarko/Indo-Aviation.com

Be the first to comment

Leave a Reply