Beban Biaya AirAsia Diprediksi Meningkat Pasca Kecelakaan QZ8501



AirAsia Group mendapatkan diprediksi mendapatkan tekanan yang cukup serius setelah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Republik Indonesia mengumumkan hasil investigasi kecelakaan penerbangan Indonesia AirAsia QZ8501. Apalagi performa keuangan AirAsia Group di tahun 2015 ini kurang bagus, memaksa perusahaan membuat rencana restrukturisasi.

Shukor Yusof, pendiri Endau Analytic, sebuah konsultan penerbangan yang berbasis di Johor Baru, mengatakan bahwa AirAsia diperkirakan perlu mengeluarkan biaya asuransi yang lebih besar setelah hasil investigasi KNKT menunjukkan anak usahanya di Indonesia, Indonesia AirAsia, tidak memberikan pelatihan yang cukup kepada pilot-pilotnya dan/atau merawat pesawat dengan tepat.

Menurut dia, beban biaya yang dikeluarkan oleh AirAsia juga akan semakin tinggi karena harus memberikan pelatihan lebih kepada para stafnya. “Selain premi asuransi yang lebih tinggi, maskapai penerbangan ini perlu mengeluarkan lebih banyak waktu dan sumber daya keuangan untuk melatih staf,” kata dia.

Shukor Yusof menambahkan, perusahana penerbangan yang berbasis di Kuala Lumpur ini juga perlu dana ekstra untuk memastikan pesawat-pesawatnya terawat dengan baik dan siap terbang. “(Hasil investigasi) kemungkinan juga akan mengurangi minat para calon investor potensial serta memberikan dampak terhadap pembicaraan AirAsia dengan sejumlah bankir baru dan para kreditur,” ungkapnya.

Foto: Istimewa

Be the first to comment

Leave a Reply