Bea Masuk Suku Cadang Dibebaskan, Garuda Bisa Berhemat 10 Persen



Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia mengaku bisa melakukan penghematan biaya operasional sebesar 10 persen setelah pemerintah membebaskan bea masuk impor suku cadang pesawat pada tahun 2016 mendatang dalam paket kebijakan ekonomi jilid kedelapan.

Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia Benny Siga Butarbutar mengatakan bahwa pembebasan bea masuk impor suku cadang pesawat juga membuat maskapai penerbangan Indonesia lebih kompetitif dalam menghadapi persaingan di Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Ini akan menggurangi tekanan terhadap operasional, seperti biaya pembelian, biaya pemeliharaan, itu jauh lebih berkurang. Jadi, itu kira-kira bisa sampai 10 persen dihemat,” ujarnya.

Benny menuturkan, meskipun bisa menghemat biaya operasional hingga 10 persen, maskapai penerbangan tidak serta-merta menurunkan harga tiket penerbangan. Namun, dana penghematan itu bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas layanan maskapai penerbangan, dan tentu saja meningkatkan daya saing Garuda Indonesia di MEA. “Kita juga punya GMF (Garuda Maintenance Facility), ini akan membantu GMF memiliki daya saing. Artinya, kita bisa bermain di industri pemeliharaan dan perawatan pesawat. Sekarang, kita kan cukup terbesar di Asia Pasifik. Paket ini akan membuat GMF semakin dikenal dan makin memberikan kemampuan bersaing baik nasional maupun global,” kata Benny.

Menurut Benny, maskapai penerbangan Indonesia masih mengandalkan suku cadang pesawat yang didatangkan dari luar negeri secara impor lantaran belum ada perusahaan di Indonesia yang bisa membuat suku cadang secara lokal. Hal ini membuat maskapai penerbangan perlu mengeluarkan biaya dalam bentuk dolar Amerika Serikat. Padahal kondisi dolar saat ini sedang menguat terhadap rupiah, sehingga pembebasan bea masuk suku cadang pesawat paling tidak bisa sedikit memberikan angin segar kepada maskapai penerbangan. “Sebab, 70 persen (pembelian) itu hampir menggunakan dolar, asuransi pesawat dalam dolar, pemeliharaan juga dalam dolar, impor mahal. Namun, saat ini yang diperlukan adalah untuk mampu bertahan dalam tekanan ekonomi nasional dan global,” tutur dia.

Foto: ATR

Be the first to comment

Leave a Reply