Batavia Air, Maskapai yang Hancur Tanpa Kecelakaan



Batavia Air merupakan sebuah maskapai penerbangan swasta yang mulai beroperasi pada 5 Januari 2002. Perusahaan penerbangan ini berawal dari bisnis biro perjalanan yang dimiliki oleh pemiliknya, yaitu Yudiawan Tansari. Sayang, maskapai ini tidak mampu bersaing atas ketatnya industri penerbangan yang sebenarnya sangat menjanjikan hingga akhirnya tutup operasi pada Januari 2013.

Pada tahap awal operasinya, Batavia Air mengandalkan satu pesawat Fokker F28 dan dua pesawat Boeing 737-200. Jumlah armada ini terus berkembang karena Batavia Air menjadi salah satu maskapai penerbangan pilihan bagi masyarakat. Apalagi maskapai ini menawarkan tiket dengan harga yang terjangkau serta standar pelayanan yang cukup baik. Setidaknya Batavia Air bisa mengoperasikan lebih dari 30 pesawat dari berbagai jenis, seperti Boeing 737-300, Boeing 737-400, Boeing 737-500, Airbus A319, Airbus A320, Airbus A321 dan Airbus A330-200.

Sebagai maskapai penerbangan yang termasuk dalam lima besar di Indonesia, Batavia Air melayani lebih dari 40 rute penerbangan dengan basis di Jakarta dan Surabaya. Tidak hanya di tingkat domestik, Batavia Air juga mampu mengembangkan ekspansinya pada rute-rute internasional. Maskapai ini pernah melayani rute penerbangan Jakarta-Guangzhou, Jakarta-Pontianak-Kuching dan Jakarta-Denpasar-Dili. Bahkan, Batavia Air sempat melayani rute Jakarta-Jeddah menggunakan dua pesawat berbadan lebar Airbus A330-200. Pengoperasian pesawat dan rute yang disebut terakhir ini malah menjadi salah satu kontribusi bangkrutnya Batavia Air karena beban biaya operasional yang sangat besar.

Melihat tanda-tanda kemunduran Batavia Air, pada Juli 2012 maskapai penerbangan swasta Indonesia AirAsia mengumumkan rencana akuisisi 100 persen saham Batavia Air. Bahkan untuk akuisisi ini Indonesia AirAsia bersama dengan induknya, AirAsia Berhad, telah menyiapkan dana tunai sebesar US$ 80 juta. Dengan akuisisi ini diharapkan Indonesia AirAsia bisa cepat tumbuh dengan mengambil alih semua rute peninggalan Batavia Air.

Sayangnya, pada Oktober 2012 AirAsia Group membatalkan rencana akuisisi ini karena dianggap beresiko terhadap saham AirAsia. Terlebih lagi, menurut penelitian dari OSK Research, Batavia Air memiliki utang yang sangat besar. Riset ini juga menunjukkan bahwa perusahaan milik Yudiawan Tansari tidak dikelola dengan benar. Pesawat-pesawat yang dioperasikan Batavia Air juga rata-rata berumur tua, antara 15-20 tahun sehingga sangat boros bahan bakar dan biaya perawatan tinggi.

Batavia Air kemudian melanjutkan operasinya sendiri dengan tertatih-tatih. Satu per satu pesawat ditarik oleh lessor karena Batavia Air gagal membayar uang sewa. Puncaknya adalah ketika perusahaan leasing pesawat International Lease Finance Corporation (ILFC) mengajukan gugatan pailit karena Batavia Air memiliki utang tertagih sebesar US$ 4,68 juta pada 13 Desember 2012. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat kemudian memeangkan gugatan ILFC dengan memutuskan Batavia Air pailit pada 30 Januari 2013. Pada 31 Januari 2013, seluruh penerbangan Batavia Air dinyatakan sudah tidak boleh beroperasi.

Setelah dinyatakan pailit, kemelut masih saja menyelimuti Batavia Air. Perusahaan ini menyisakan utang berdasarkan perhitungan tim kurator hingga 1 Maret 2013 sebesar Rp 2,5 triliun kepada sejumlah kreditur, termasuk uang pesangon yang semestinya dibayarkan kepada para karyawan.

Terlepas dari rekam jejaknya yang buruk di akhir hidupnya, Batavia Air pernah berjasa melayani penerbangan di Indonesia selama kurang lebih 10 tahun, menghubungkan kota-kota yang mungkin sebelumnya tidak pernah dioperasikan oleh maskapai penerbangan lain. Lebih menarik lagi, Batavia Air memiliki catatan manis sebagai maskapai penerbangan yang tidak pernah mengalami kecelakaan (zero accident). Malah maskapai ini pernah lolos dari daftar hitam Uni Eropa bersama dengan Garuda Indonesia, Airfast Indonesia, Mandala Airlines dan Indonesia AirAsia. Meskipun tanpa kecelakaan, akhirnya Batavia Air tetap hancur akibat persaingan bisnis penerbangan yang sangat ketat. Good bye Batavia Air!

Foto: Leonardo Kosasih/PhotoV2.com for Indo-Aviation.com

2 Comments

  1. Batavia pailit bukan karena ILFC gugatannya dikabulkan. Di hari keputusan ILFC mengajukan penarikan gugatan dan pihak Batavia menolak penarikan gugatannya yang sudah pasti akan mengakibatkan kebangkrutannya.

    Catatan manis safety Batavia hanyalah isapan jempol belaka. Pilot terbang lebih dari 110 jam sebulan banyak. Pesawat keluar runway atau sampai ngeblok runway sering, salah satunya malah ditulis oleh laporan KNKT diakibatkan oleh maintenance procedure yang tidak sesuai dan pelanggaran maintenance.

  2. Kalau soal keluar runway itu disebut incident dan bukan accident. Yang dimaksud disini adalah batavia bisa bersih dari accident, sementara lion, garuda aja sudah berapa kali accident. Lion nabrak kuburan di solo, nyemplung di bali, dll. garuda dulu di bengawan solo, di jogja, dll. Kategori accident yang paling tragis adalah Adam Air yg hilang di perairan majene dan akibat itu Adam di tutup. Walaupun diakhir hidupnya, ditemukan beberapa pelanggara oleh Batavia seperti kelebihan jam terbang, maintenance, dll.

Leave a Reply