Batam Aero Technic Investasikan Rp 7 Triliun untuk Perawatan Pesawat



Hanggar perawatan pesawat Batam Aero Technic. Foto: Reni Rohmawati.

Batam Aero Technic (BAT) terus mengembangkan fasilitas perawatan pesawat terbang dan menambah hanggar. Sampai tahun 2022, fasilitas MRO (Maintenance Repair Overhaul) pesawat terbang milik Lion Air Group yang berlokasi di area Bandara Hang Nadim Batam ini akan menginvestasikan dana sekitar Rp 7 triliun.

“Total investasi di BAT kalau sampai selesai tahap kelima itu sekitar 7 triliun rupiah. Jumlah pekerjanya kalau sudah tiga shift kurang lebih 10.000 orang. Selesai tahap kelima itu tahun 2022. Ini perusahaan bukan untuk jangka pendek,” ujar Edward Sirait, Presiden Direktur Lion Air Group di Batam, pada 12 Oktober 2017.

Edward menjawab pertanyaan tentang sewa lahan dari Otoritas Batam yang hanya 25 tahun dan bisa diperpanjang lima tahun. Maka dengan investasi yang sangat besar dan mempekerjakan pekerja yang juga sangat banyak, pihaknya sudah meminta perpanjangan kontrak lahan hingga 50 tahun. Bukan hal yang tidak mungkin karena di Amerika Serikat misalnya, untuk industri yang nilai usahanya untuk jangka panjang, sewa lahan bisa sampai 100 tahun.

“Nantinya BAT ini tidak hanya melayani perawatan pesawat milik Lion Air Group. Kami juga ingin melayani maskapai penerbagan luar yang mau perawatan pesawat. Di BAT ini rencananya bisa merawat 60 pesawat narrow body sekaligus dock in di hangar,” ungkap Edward tentang fasilitas MRO yang dibangun awal tahun 2010-an itu.

Untuk mendukung perkembangan MRO di Batam itu, pihak Lion Air Group juga meminta pemerintah daerah setempat untuk mempercepat proses sekolah penerbangan. Saat ini, BAT sudah bekerja sama dengan Politeknik Batam dan memiliki sertifikasi AMTO 147. Lulusannya nanti bisa bekerja di BAT.

“Kami nggak takut kalau mereka tak akan mendapat pekerjaan atau setelah bekerja di BAT pindah kerja. Kalau kita mau, kita kirim pekerja ke luar negeri dengan kualifikasi engineer pesawat terbang. Gajinya di sana 8.000 dollar AS, langsung karena kita punya kemampuan. Di Boeing ada 160 orang Indonesia jadi ahli dalam proses pembuatan pesawat. Mereka bos semua. Ada seorang ahli metaluri, yang menjadi kunci untuk merilis apakah metal yang digunakan pesawat itu oke atau tidak. Di Airbus juga kita ketemu orang Indonesia. Di Timur Tengah juga banyak. Tak ada keraguan kita dan nggak apa-apa mereka kerja di luar negeri tapi terhormat,” papar Edward.

Sehari sebelumnya, IndoAviation  melakukan tur melihat fasilitas Batam Aero Technic. Dari 28 hektare lahan BAT, saat ini baru dibangun di lahan seluas 4 hektare untuk tahap pertama dengan hanggar yang bisa menampung 12 pesawat narrow body sekaligus dock-in. Tahap kedua sedang dibangun berupa fasilitas untuk perawatan komponen, faslitas perawatan landing gear, juga heavy shop. “Ada 23 shop yang sedang kami kerjakan, termasuk engine shop bekerja sama dengan CFM. Fasilitas ini ditargetkan selesa dua tahun ke depan,” ujar Dedeng Ahmadi, General Manager Logistik Batam Aero Technic. CFM merupkan manufaktur mesin pesawat yang banyak digunakan di pesawat-pesawat yang dioperasikan Lion Air Group.

BAT juga akan membangun fasilitas test cell. “Bulan depan akan dibangun tiang pancangnya. Setelah rampung, Lin Air Group menjadi yang pertama dan satu-satunya di Asia yang memiliki fasilitas ini,” ungkap Dedeng. Fasilitas test cell engine ini, kata Edward, dibangun dengan investasi sekitar 150 juta dollar AS atau setara dengan Rp2triliun (kurs dollar AS Rp13.400).

Fasilitas MRO di Batam ini sudah memiliki persetujuan (approval) dari beberapa otoritas penerbangan sipil, yakni Ditjen Perhubungan Udara (DGCA (Directorat General Civil Aviation) Indonesia, DGCA Malaysia, DGCA Thailand, dan FAA (Federal Aviation Administration) AS. “Selanjutnya, masih dalam proyek, adalah sertifikasi EASA (Europe Aviation Safety Agency),” ungkap Dedeng.

Lion Air Group saat ini sudah mengoperasikan hampir 300 pesawat, yang dioperasikan oleh Lion Air, Batik Air, Wings Air, Malindo Air, ThaiLion Air, juga Bizjet Lion. Sampai tahun 2035, Lion Air group sudah memesan hampir 1.000 pesawat terbang, dengan jenis Boeing 737 NG (seri 900 dan 800), Boeing 737 MAX (seri 8 dan 9) yang kata Edward sedang negosiasi juga untuk seri 10, ATR 72 seri 500 dan 600, juga Airbus A320 (ceo dan neo) serta Airbus A330-300, termasuk Hawker 900 dan Helikopter EC135 untuk penerbangan carter.

Tentu sangat diperlukan MRO untuk perawatan berkala, yang pada saat ini setiap tahun bisa mencapai 150 pesawat. Pembangunan hanggar di Batam Aero Technic pun terus dilakukan, termasuk hanggar untuk pengecatan pesawat yang diperkirakan akan selesai tahun 2018. Rencananya akan dibangun pula akses taxiway tambahan ke Bandara Hang Nadim. “Masih menunggu izin dari Otoritas Batam,” ujar Dedeng.

Be the first to comment

Leave a Reply