ASI 2016: Airport Harus Punya Data Base Keamanan



Airport Solutions Indonesia 2016

Airport Solution Indonesia (ASI) 2016 yang berlangsung 9-11 November 2016 cukup mengundang keingintahuan pengunjung. Pameran bersekala internasional ini dihadiri oleh berbagai produsen infrastruktur bandara dari negara sahabat baik di daratan Eropa maupun Asia.

ASI 2016 sebetulnya lebih diperuntukan bagi para profesional yang hendak mengembangkan infrastruktur, sistem informasi bandara, hingga masalah security-nya. Pameran yang berlangsung di Jakarta Convention Center ini dilaksanakan bersamaan dengan ASEAN G28 Invesment Forum, Regional Goverments Conference on Sustainable and Inclusive Infrastructur Development, Construction Tech Indo, dan Expo Comm Indonesia. Semua kegiatan itu  dikemas dalam sebuah program bernama Indonesia Infrastructure Week 2016.

Dalam pameran, banyak produk ditawarkan sebagai solusi permasalahan di bandara. Produk-produk yang dihadirkan berasal dari sejumlah negara, salah satunya adalah drone keluaran Hikvision. Drone yang diberinama Falcon itu katanya setera dengan spesifikasi drone militer. Bisa terbang otomatis sejauh hingga 20km. Dilengkapi dengan kamera, drone bisa berfungsi sebagai pengintai dan fungsi pemetaan. Falcon ditawarkan dengan harga yang reasonable. Untuk menerbangkannya, pembeli harus menjalani pelatihan khusus. Hikvision juga menawarkan produk anti-drone untuk mengusir drone yang terbang membahayakan seperti di atas area bandara.

Exebitor lainnya dari kawasan Asia yaitu Jepang. Wwalaupun produsen Jepang tidak hadir secara besar-besaran, raksasa elektronik NEC  menawarkan perangkat lunak untuk keamanan bandara. Salah satu sistem pengaman yang ditawarkan ini sudah digunakan di Bandara John F. Kennedy, AS.

Seminar Security

Selain pameran produk, pada hari kedua ASI 2016 digelar seminar seputar sistem keamanan bandara, antara lain membahas sistem security di bandara-bandara Indonesia. Dalam diskusi itu terungkap, bahwa untuk membuat sebuah sistem keamanan bandara yang terbaik, tidak hanya dibutuhkan peralatan berteknologi canggih, namun juga sebuah sistem organisasi yang baik, dan sumber daya manusia yang handal.

Dalam paparannya, Dony Subardono – Airport Security Group Head PT Angkasa Pura (AP) I, mengemukakan bahwa masalah security di 13 bandara di bawah AP I sangat beragam. Pihak AP I sendiri sebetulnya tengah membuat standarisasi sistem keamanan bandara-bandara yang dikelolanya, sehingga memenuhi standar ACI (Airport Council International). Namun dalam pelaksanaannya,  setiap bandara memiliki masalah dan karakter masing-masing, sehingga untuk beberapa bandara dibuatlah standar minimum dalam hal keamanan bandara.

Untuk bandara besar, Dony menyebut bahwa kini Bandara Internasional Ngurah Rai telah memiliki standar keamanan yang direkomendasikan ACI. Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman  Sepinggan – Balikpapan dikatakannya sedang sedang dalam proses standarisasi.

Bagi airlines, sistem dan tingkat keamanan bandara di Indonesia yang berbeda-beda menuntut kajjian tersendiri. Garuda Indonesia sebagai maskapai yang terbang ke berbagai daerah pun harus selalu mengkaji dan mengkaji ulang sistem keamanannya, demi memenuhi standar internasional sesuai ICAO Annex 17.

Corporate Security Garuda Indonesia, Kadek Batu Temaja, mengungkapkan demi sebuah sistem keamanan yang terbaik, airline dan airport harus bekerjasama. Airport dan airline harus punya data base keamanan. “Garuda Indonesia secara berkala selalu melakukan riset soal security untuk memproteksi diri dari ancaman,” jelas Kadek, seraya menjelaskan bahwa organisasi dan sumber daya manusia jauh lebih penting dari sekadar keberadaan teknologi keamanan yang tercanggih. (hrz/rms)