Analis: AirAsia Bisa Merugi di Akhir 2015



Analis dari AllianceDBS Research mengatakan bahwa maskapai penerbangan yang berbasis di Kuala Lumpur, AirAsia, berpotensi mengalami kerugian dalam laporan keuangan tahun 2015. Faktor penyebabnya adalah rencana tournaround afiliasinya di Indonesia, Indonesia AirAsia, yang menghabiskan banyak biaya dan melemahnya nilai tukar mata uang ringgit terhadap dolar Amerika Serikat. Kerugian iitu diperkirakan mencapai 697 juta ringgit dengan pendapatan sebesar 5,4 miliar ringgit.

Tan Kee Hoong, Analis AllianceDBS, mengatakan bahwa kerugian terbesar berasal dari dana sebesar 472,2 juta ringgit yang disuntikkan kepada Indonesia AirAsia agar ekuitasnya positif sehingga keluar dari ancaman pembekuan izin operasional oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

Dia juga mengatakan bahwa depresiasi nilai tukar ringgit terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 26 persen juga ikut menekan performa keuangan AirAsia di tahun 2015. “AirAsia memiliki utang sekitar 10,5 miliar ringgit dan sekitar 85 persen utang itu dalam bentuk mata uang dolar Amerika Serikat,” ujarnya.

AirAsia memang pernah mendapatkan keuntungan yang mengesankan pada tahun 2010 sebesar 1 miliar ringgit. Namun angka itu turun menjadi hanya 83 juta ringgit di tahun 2014, atau lebih rendah 77 persen dibandingkan keuntungan di tahun 2013 sebesar 362 juta ringgit.

Foto: Arif Fauzi/PhotoV2.com for Indo-Aviation.comĀ 

Be the first to comment

Leave a Reply