Akhirnya Indonesia Punya Skytrain Gratis di Bandara Internasional Soekarno-Hatta



Peresmian Sky Train Soekarno Hatta. Foto: Reni Rohmawati.

Skytrain atau people mover di Bandara Internasional Soekarno-Hatta resmi dioperasikan. Gratis, walaupun masih belum operasi 24 jam. Setiap hari hanya operasi pukul 07.00-09.00, pukul 12.00-14.000, dan pukul 17.00-19.00. Jalur operasinya pun baru dari Terminal 3 ke Terminal 2 dan sebaliknya. Lokasi shelternya di gate 5 lantai 1 T3 dan T2-E.

“Luar biasa. Ini suatu peningkatan pelayanan dan suatu keharusan ada skytrain di bandara internasional. Ini menyenangkan,” ujar Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan, usai mencoba skytrain bersama Menteri BUMN Rini M Soemarno dan Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin di Shelter T3, Minggu (17/9/2017).

Menhub juga mengapresiasi karena peresmian operasi skytrain yang pertama di Indonesia itu bertepatan dengan Hari Perhubungan Nasional. “Ini bakti AP II bagi masyarakat,” ucapnya.

Rini mengatakan, pekerjaan pembangunan people mover yang pertama di Indonesia itu diperhatikan betul, sehingga dalam 12 bulan bisa mulai beroperasi. “Ini pekerjaan yang sangat membanggakan. Bukan hanya karena sinergi BUMN dan swasta juga dengan Kementerian Perhubungan. Jika sinergi seperti ini dilakukan, pembangunan public transport bisa lancar,” tuturnya.

Menurut Rini, dioperasikannya skytrain itu sebagai wujud dari komitmen pemerintah dalam membangun negeri melalui sinergi BUMN. Kolaborasi antara AP II, Wijaya Karya, dan LEN Industri merupakan salah satu contoh kerjasama yang bermanfaat bagi pelayanan kepada masyarakat.

Pengoperasian skytrain dilakukan setelah Kemhub melakukan sejumlah verifikasi, khususnya terkait dengan keselamatan, keamanan, dan pelayanan penerbangan. Lantas diterbitkan Keputusan Menteri Perhubungan RI Nomor KP 841 Tahun 2017 tentang Izin Operasi Perkeretaapian Khusus kepada PT Angkasa Pura II (Persero).

Muhammad Awaluddin mengatakan, skytrain sebagai moda transportasi publik modern belum pernah ada sepanjang sejarah di Indonesia dan sekarang dioperasikan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. “Hal ini menandakan bahwa dunia transportasi nasional terus berkembang demi peningkatan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.

Moda transportasi kereta tanpa awak itu menggunakan sistem automated guideway transit. Namun pada tahap awal operasionalnya, skytrain masih melibatkan pengemudi hingga sekitar enam bulan. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari familiarisasi dan sosialisasi kepada publik dan setelah itu skytrain akan beroperasi tanpa awak

Pada tahap awal, lintasan yang dilalui skytrain pun baru sepanjang 1.700 meter. Ke depan, lintasannya mencapai 3.050 meter menghubungkan juga Terminal 1 dan Integrated Building yang merupakan stasiun KA Bandara. Saat beroperasi penuh, headway skytrain ditetapkan setiap 5 menit dengan total waktu tempuh 7 menit. Namun saat ini baru tersedia satu set skytrain yang terdiri dari dua kereta berkapasitas 176 orang dan waktu tempuhnya lebih lama.

“Kami berharap keberadaannya dapat menjadi semacam inisiator perkembangan moda transpotasi di Indonesia demi kemudahan perpindahan masyarakat dari satu tempat ke tempat lain. Pengoperasian skytrain ini juga merupakan salah satu persiapan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dalam menyambut pelaksanaan Asian Games 2018,” ungkap Awaluddin.

Sebelum akhir tahun ini, pada 16 Desember 2017, seluruh pembangunan skytrain di Soekarno-Hatta akan rampung dan beroperasi. Hal ini juga akan bersamaan dengan selesainya pembangunan KA Bandara dari Dukuh Atas Jakarta dan juga bisa beroperasi. “Ultimate, pembangunan lintasan dan shelter skytrain bukan cuma di T3, T2, T1, dan Integrated Building serta shelter depo perawatan, tapi juga ke T4 yang rencananya akan dibangun di area Soewarna itu,” ujar Awaluddin.

Total nilai investasi proyek skytrain tersebut mencapai sekitar Rp950miliar; Rp530miliar untuk pengadaan trainset dan Rp420miliar untuk pembangunan lintasan. Pengadaan trainset disiapkan oleh PT LEN Industri (Persero) dan Woojin asal Korea Selatan, sedangkan pembangunan lintasan dan shelter oleh PT Wijaya Karya Tbk dan PT Indulexco.

Direktur Operasi PT Angkasa Pura II, Djoko Murdjatmojo menjelaskan, skytrain Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditempatkan di sisi darat atau landside seperti yang ada di bandara di San Fransisco, bukan di sisi udara atau airside seperti di Bandara Changi, Singapura. Hal ini karena Soekarno-Hatta memiliki sistem multi terminal, yang masing-masing terminal beroperasi secara individu, sehingga penumpang transit antarterminal berpindah melalui landside.

“Dari analisis menunjukkan bahwa pergerakan penumpang dan pengguna jasa seluruhnya melalui landside, sehingga penempatan skytrain sudah sesuai kebutuhan di lapangan,” ucap Djoko

1 Comment

Leave a Reply