AirNav Indonesia Teken MoU Pengalihan Layanan Navigasi di 27 Bandara



Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pengalihan layanan navigasi penerbangan 27 Bandara di Kantor Pusat AirNav Indonesia, Tangerang, pada Rabu (24/5).

Sesuai dengan Surat Direktur Jenderal Perhubungan Udara nomor AU.308/10/8/DRJU.DNP-2015 tentang Pengalihan Penyelenggaraan Pelayanan Navigasi Penerbangan kepada Perum LPPNPI, AirNav Indonesia secara bertahap diamanatkan untuk mengambil alih layanan navigasi penerbangan pada Bandara yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Pemerintah Daerah dan Badan Hukum Indonesia (swasta).

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Utama AirNav Indonesia, Novie Riyanto, dengan Kepala Daerah dan Pimpinan Badan Hukum Indonesia, dalam hal ini perusahaan-perusahaan swasta yang mengelola bandaranya masing-masing.

“MoU seputar bidang operasi dan teknik, SDM, serta aset dan keuangan. AirNav Indonesia akan melayani navigasi penerbangan pada 28 lokasi Bandara tersebut,” ujar Novie.

Disampaikannya, pengalihan layanan navigasi penerbangan ini tentunya demi menjamin keselamatan dan meningkatkan efisiensi penerbangan di Indonesia. “Kami akan segera melakukan asesmen terhadap 28 Bandara tersebut dan memastikan layanan navigasi penerbangan yang diberikan mengikuti standar dan aturan yang berlaku sesuai dengan kategori Bandara masing-masing,” paparnya. Dia menambahkan, hal-hal teknis dan detail lainnya akan dituangkan ke dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Dengan penandatanganan MoU yang dilakukan hari ini, AirNav Indonesia telah memiliki dasar hukum yang kuat untuk mengelola dan memberikan layanan navigasi penerbangan pada 27 Bandara yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta tersebut. Bandara yang dikelola oleh Dirjen Perhubungan Udara yang masuk di dalam MoU berjumlah 17 Bandara, yakni Bandara Alas Lauser Kutacane, Bandara Liwue Bunga Pulau Larat, Bandara Gebe Halmahera Tengah, Bandara Lereh Keerom, Bandara Nop Goliat Dekai Yahukimo, Bandara Aboy Pegunungan Bintang, Bandara Fawi Puncak Jaya, Bandara Borome/Borme Oksibil, Bandara Ransiki Manokwari, Bandara Blangkejeren Gayu Lues, Bandara Letung Anambas (Tanjung Pinang), Bandara Luban, Bandara Sobaham Yahukimo, Bandara Iwur, Bandara Miangas Kepulauan Sangihe Talaud, Bandara Maratua Kepulauan Derawan, Berau, dan Bandara Teraplu Papua.

Sedangkan bandara yang dikelola oleh Pemerintah Daerah berjumlah delapan bandara, yaitu Bandara Syekh Hamzah Fansury Singkil, Bandara Kuala Batu Blang Pidi, Bandara Malikus Saleh Lhokseumawe, Bandara Tempuling Indragiri Hilir, Bandara Pinang Kampai Dumai, Bandara Nusawiru Pangandaran, Ciamis, Bandara Noto Hadinegoro Jember dan Bandara Pusako Anak Nagari/simpang Ampek/Laban-Pasaman Barat.

Terakhir, bandara yang dikelola oleh Badan Hukum Indonesia berjumlah dua bandara, yaitu Bandara Tanjung Bara, Sangatta yag dikelola oleh PT. Kaltim Prima Coal dan Bandara Bintan yang dikelola oleh PT. Bintan Aviation Investments.

Sebelumnya di awal tahun 2017 AirNav Indonesia juga menerima pengalihan layanan navigasi penerbangan di enam Bandara, yang terdiri dari empat Bandara yang dikelola oleh TNI AU, satu Bandara yang dikelola oleh perusahaan swasta dan satu Bandara milik Pemerintah Daerah.

Empat Bandara milik TNI AU adalah Bandara Leo Wattimena-Morotai, Bandara Ranai-Natuna, Bandara Maimun Saleh-Sabang dan Bandara Abdul Rachman Saleh-Malang. Satu bandara milik pemda adalah Bandara Cibeureum-Tasikmalaya serta satu milik PT Freeport, Bandara Mozes Kilangin-Timika. Terakhir, pada 15 Mei lalu AirNav Indonesia juga telah melakukan penandatanganan MoU dengan Pemerintah Kota Pagar Alam untuk mengelola layanan navigasi penerbangan di Bandara Atung Bungsu.

Novie mengatakan, di usia AirNav Indonesia yang belum genap lima tahun, kepercayaan dari para stakeholder penerbangan di negeri ini cukup tinggi. AirNav Indonesia yang saat ini mengelola 275 Cabang yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara akan terus berupaya untuk meningkatkan layanan navigasi penerbangan yang menjamin keselamatan dan efisiensi.

“Melalui berbagai program investasi dan inovasi, kami akan berusaha maksimal untuk berkontribusi dalam membangun konektivitas sektor perhubungan udara. Tak hanya di bandara-bandara besar, bandara terpencil juga akan mendapatkan perhatian serupa demi menekan disparitas harga dan menggerakan roda perekonomian masyarakat. Melalui kolaborasi dengan seluruh stakeholder penerbangan, kami sangat yakin sektor perhubungan akan memegang peranan krusial dalam pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Foto: AirNav Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply