AirAsia Incar Penghematan US$ 160 Juta dari Harga Bahan Bakar



AirAsia, maskapai penerbangan berbiaya rendah yang berbasis di Malaysia, memprediksi bisa menghemat hingga US$ 160 juta dari rendahnya biaya bahan bakar pada tahun depan sejalan dengan berakhirnya tenor lindung nilai (hedging) pada 2015. “60 persen armada AirAsia dilakukan hedging. Minyak merupakan komponen yang sangat besar dalam komponen biaya kami,” kata Chief Executive Officer AirAsia Group Tony Fernandes sembari menambahkan bahwa tidak ada lagi hedging bahan bakar pada tahun depan.

Belakangan ini AirAsia Group mengalami kerugian akibat hedging minyak lantaran harga hedging jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga minyak di pasaran. AirAsia Group melakukan hedging minyak pada level US$ 80 per barrel, lebih tinggi 50 persen dibandingkan dengan harga di minyak di pasaran saat ini. “Dari poin keuangan, devaluasi mata uang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan devaluasi minyak. Devaluasi minyak memiliki imbas yang jauh lebih besar kepada kami,” ungkap dia.

Sementara itu, menanggapi rendahnya nilai tukar mata uang ringgit terhadap mata uang asing seperti dolar Amerika Serikat, Fernandes mengatakan hal itu malah bisa menarik lebih banyak lagi kunjungan wisatawan asing ke Malaysia dan tidak memperlambat bisnis AirAsia. “Situasi nilai tukar saat ini sebenarnya menjadi peluang bagi kami. Kami melihat peluang untuk menarik lebih banyak orang terbang, kami tidak melihat penurunan dalam bisnis kami,” ujarnya.

Menurut Fernandes, AirAsia X telah mendapatkan keuntungan yang paling besar dari melemahnya nilai tukar mata uang ringgit dengan mata uang asing. Dalam hal ini, AirAsia X mengantongi pendapatan yang lebih besar dari kalangan penumpang asing, khususnya dari Australia, Korea Selatan, dan Jepang.

Foto: Airbus

Be the first to comment

Leave a Reply