ACI Audit Kualanamu dan Minangkabau untuk Tingkatkan Keselamatan Bandara



AP II melaksanakan Apex in Safety dari ACI untuk meningkatkan level keselamatan 15 bandara yang dikelolanya.

Pentingnya keselamatan di bandar udara menuntut adanya peningkatan level keselamatan (safety level) suatu bandara. Maka untuk meningkatkan safety level itu, PT Angkasa Pura (AP) II bekerja sama dengan Airport Council International (ACI) dalam program Apex (Airport Excellence) in Safety. Program ini akan dilaksanakan di Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang dan Bandara Internasional Minangkabau di Padang.

“Kenapa program Apex in Safety ini penting karena AP II yang sekarang mengelola 15 bandara akan mencapai satu juta aircraft movement tahun ini. Tahun lalu baru 821.000 aircraft movement. Tahun lalu juga traffic passenger-nya sudah tembus 100 juta penumpang. Pada saat produktivitas bandara meningkat, dituntut adanya peningkatan safety level,” ungkap Muhammad Awaluddin, Direktur Utama PT AP II, di sela-sela acara pembukaan Apex in Safety dari ACI di Gedung AP II Tangerang, Senin (16/7/2018).

Menurut Awaluddin, pengelola bandara tidak bisa berkilah dengan mengatakan kalau bandaranya padat dengan trafik pesawat dan penumpang yang tinggi membolehkan atau memberikan kondisi yang faktor safety-nya tidak dipertimbangkan lagi. “Forum ini memberikan satu hal untuk berbagi experience. Para expert bandara dunia yang dikoordinasikan oleh ACI akan memberikan experience dari multi perspektif,” ucapnya.

Manager Apex in Safety ACI Ermenaldo Silva mengatakan, tidak mudah mengumpulkan para pakar bandara di dunia untuk melakukan penilaian dan berbagi pengalaman mereka. Dia pun mengapresiasi permintaan AP II untuk meningkatkan safety level dengan melaksanakan program Apex in Safety.

“Tidak ada airport yang punya perfect category. Masing masing airport punya kelemahan dan kelebihan. Dalam hal itu expert dari airport akan berbagi pengalaman untuk meningkatkan keselamatan, misalnya di runway, taxiway, dan apron, pada sisi udara,” kata Ermenaldo. Dia pun memperkenalkan para pakar bandara yang hadir, antara lain, dari bandara di Brisbane, Bengalore, Nepal, dan Kuala Lumpur.

“Dari hasil asesmen mereka, kita akan improve untuk safety level kita,” kata Awaluddin. Dia pun menambahkan kalau Nepal paling menarik karena punya bandara di pegunungan, yang paling sedikit tingginya di atas 3.000 meter. “Kalau ditanya safety level dan risikonya pasti tinggi, tapi kan bandara tetap jalan. Artinya, bandara di Nepal iti bisa memitigasi segala risiko dan kemungkinan yang ada. Nah, itu kan membutuhkan safety risk yang harus sangat dipertimbangkan.”

Dipilihnya Kualanamu dan Minangkabau dari 13 bandara lainnya untuk dinilai dan diaudit oleh ACI, kata Awaluddin, karena dua bandara tersebut merupakan representasi bandara besar. “Di Kualanamu sekarang ada rata-rata 220-230 pergerakan pesawat terbang per hari, sedangkan di Minangkabau sekitar setengahnya atau 100-an aircraft movement,” ujarnya.

Kualanamu yang trafik penumpangnya lebih dari 10 juta per tahun juga akan meningkatkan kapasitas terminal penumpangnya dengan menambah area seluas 70.000 meter persegi. Sementara di Minangkabau yang bandaranya tumbuh pesat, jumlah penumpangnya akan mencapai 4 juta orang, naik dari tahun lalu yang 3,6 juta penumpang. Infrastruktur apron dan terminal penumpangnya pun akan diperluas.

Kenapa bukan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yang trafik penumpangnya lebih dari 60 juta orang tahun lalu dengan lebih 1.000 pergerakan pesawat per hari? “Waktunya yang kurang tepat. Seperti dikatakan Ermenaldo tadi, tidak mudah mengumpulkan expert bandara itu. Tim pertama yang datang ini nanti untuk Kualanamu. Sabtu nanti tim yang datang untuk Minangkabau. Nanti kami akan minta lagi tim untuk Soekarno-Hatta,” jawab Awaluddin.

Safety Management System (SMS) bandara akan dinilai dan diaudit, seperti runway safety, yang sangat penting karena merupakan alat produksi utama suatu bandara. Audit yang akan berlangsung dua minggu di masing-masing bandara itu nantinya akan membuahkan pengalaman (experience), rekomendasi, dan aksi atau implementasi.

Experience itu bisa digunakan jadi rekomendasi di bandara mana saja kalau bersifat general. Bisa juga ada rekomendasi yang spesifik,” papar Awaluddin. Dia pun menegaskan kalau ACI sebagai lembaga di industri aviasi cukup penting dan jadi barometer pembuat standar. “Ini yang kita sedang lakukan untuk going to global standard.

Be the first to comment

Leave a Reply