​Kenaikan Jumlah Penumpang Angkutan Udara Lebaran 12 Persen



Suasana di apron Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, saat lebaran 2017. Foto: Reni Rohmawati.

Makin banyak masyarakat Indonesia menggunakan moda angkutan udara. Salah satu indikasinya, pada libur Lebaran tahun ini kenaikannya mencapai angka 12 persen, yang dipantau dari 35 bandara. Lebih tinggi dari angka prediksi kenaikan 9,8 persen.

“Kenaikan jumlah penumpang angkutan udara Lebaran tahun lalu dibandingkan tahun sebelumnya 9 persen. Kalau sekarang naik 12 persen,  kita hitung itu dalam dua tahun kenaikannya sekitar 22 persen,” kata Agus Santoso, Dirjen Perhubungan Udara di Bandara Adisutjipto Yogyakarta hari ini (30/6).

Menurut Agus, dengan kumulatif kenaikan jumlah penumpang yang 12 persen itu membuktikan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat. Hal ini mengartikan pula bahwa parameter ekonomi Indonesia naik dan menjadi salah satu penyebab kenapa masyarakat banyak yang naik pesawat terbang dibandingkan moda transportasi lain.

“Dulu mereka cuma punya duit sangu untuk naik bus, atau naik kereta dan kapal laut. Sekarang mereka sudah bisa membeli tiket pesawat terbang. Ini menunjukkan tingkat prosperity masyarakat naik dengan lebih nyata dan signifikan,” jelas Dirjen.

Suasana di Bandara Adisutjipto, Foto: Reni Rohmawati.

Sebelumnya diberitakan, jumlah penumpang angkutan udara pada periode Libur Lebaran tahun 2017 diprediksi meningkat 9,8 persen dibandingkan tahun 2016. Jumlah pergerakan penumpang diperkirakan mencapai 5.404.814 orang, terdiri dari 4.729.287 penumpang rute dalam negeri  (domestik) dan 675.527 penumpang rute luar negeri (internasional).

“Tadinya kita prediksi jumlah penumpang yang mudik itu 2,7 juta orang. Sampai hari Lebaran lalu, yang mudik berjumlah 3,1 juta orang,” ungkap Dirjen. Agus menambahkan, walaupun sekarang ini durasi liburannya lebih panjang atau lama, animo masyarakat untuk pulang kampung pun kian besar. Lamanya hari libur itu hanya untuk distribusi mudik dan balik. Karena jarak dari mulai libur dan mulai masuk kerja itu panjang, membuat mereka jadi lebih leluasa mengatur waktunya.

“Ini bisa dibuktikan bahwa traffic increasing grade dari trafik itu tinggi pada H-9, H-8, dan H-7, bukan H-10. Kenapa begitu? Coba kita lihat kalender. H-9 itu hari Jumat, seterusnya Sabtu dan Minggu. Karena Lebaran pada hari Minggu dan seminggu sebelumnya ada libur dan kelihatan ada kenaikan, mereka berangkatnya lebih awal. Jadi, pada waktu peak atau pada H-1 dan H-2, tak tinggi-tinggi amat jumlahnya,” tutur Agus.

Di Bandara  Adisutjipto, jumlah pergerakan penumpang dari H-10 sampai H+3 mencapai 337.770 orang, naik 10,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Pada 29 Juni atau H+3 jumlahnya 24.834 penumpang, hampir sama dengan H-2 atau 23 Juni yang 24.855 penumpang. Pada H-2 itu, jumlah penumpang mudik merupakan yang paling besar dibandingkan hari-hari lain sebelum hari H-nya.

Penumpang di bandara di Yogyakarta, dari pantauan IndoAviation terlihat tak ada penumpukan walaupun sangat ramai. Menurut Adi Nugroho, Direktur Personalia dan SDM PT Angkasa Pura I, semua fasilitas bandara diberdayakan untuk kenyamanan penumpang selama masa libur Lebaran ini.

“Ada tiga bandara yang dikelola AP I, yakni Adisutjipto, Ahmad Yani di Semarang, dan Adi Sumarmo di Solo, yang perlu penanganan khusus karena kapasitas bandaranya sudah tidak mencukupi. Di Yogya ini misalnya, kami tambahkan dua x-ray dan rekayasa pergerakan penumpang di terminal agar tak ada penumpukan,” tutur Adi.

Be the first to comment

Leave a Reply