​GMF dan Garuda Percepat Perpanjangan Kontrak



GMF percepat perpanjang kontrak kerja sama dengan Garuda dalam perawatan pesawat terbang. Foto: Reni Rohmawati

Perpanjangan kontrak kerja sama antara GMF AeroAsia dengan Garuda Indonesia dipercepat. Kontrak kerja sama lima tahun sejak 2013 yang berakhir pada Juni 2018, sudah diperpanjang pada Desember 2017.

“Ini pertama kali ada percepatan dalam kerja sama di GMF. Pada Desember 2017 ini sudah tanda tangan MoU untuk kontrak dengan Garuda, yang dimulai Juni 2018,” kata Iwan Joeniarto, Direktur Utama GMF AeroAsia usai penandatanganan kerja sama tersebut bersama Direktur Teknik & Pemeliharaan Garuda Indonesia, I Wayan Susena di Hanggar 4 GMF kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Rabu (13/12/2017).

Percepatan perjanjian kerja sama itu dilakukan, salah satunya, untuk memperkuat akar bisnis dan performa GMF. Apalagi saat ini, GMF yang sudah menjadi emiten pasar modal Indonesia sejak Oktober 2017 sedang mencari dan memilih partner strategis dari luar negeri.

“Bekerja sama dengan strategic partner, perkembangan GMF akan sangat cepat. Ini seiring dengan komitmen GMF untuk menjadi one billion company,” ujar Iwan.

Setelah melakukan road show atau penjajakan ke berbagai perusahaan MRO (Maintenance Repair Overhaul) dan OEM (Original Equipment Manufacture), ucap Iwan, sekarang pilihannya sudah mengerucut menjadi tiga MRO berkelas dunia di Asia dan Eropa. Pengajuan penawarannya akan mulai Januari 2018 karena pada Desember ini perusahaan-perusahaan tersebut akan menghadapi libur akhir tahun.

Menurut Iwan, GMF berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan terhadap pelanggannya, terutama Garuda sebagai salah satu key account customer-nya. Perpanjangan kontrak baru untuk 10 tahun ke depan senilai 200juta-250juta dollar AS itu pun sebagai hasil pembahasan yang cukup mendalam dengan proses yang cukup panjang.

“Bedanya dengan kontrak kerja sama sebelumnya, cakupan pekerjaannya lebih luas; dari line maintenance sampai overhaul,” ungkap Iwan. GMF dan Garuda pun akan membentuk tim khusus untuk melakukan penyempurnaan layanan GMF untuk Garuda.

Menurut Wayan, GMF yang merupakan anak usaha Garuda Indonesia Group sudah memberikan pelayanan yang optimal dalam menjaga armada Garuda agar laik terbang. Walaupun demikian, sesuai dengan tata kelola perusahaan yang baik, Garuda tetap melakukan performance review kepada GMF sebagai maintenance provider, juga seluruh rekanan bisnisnya yang lain.

“Garuda memiliki empat faktor untuk menilai performa rekanan bisnis, yakni quality (kualitas), cost (biaya), delivery (pengiriman), dan services (layanan), untuk objektivitas penilaiannya, termasuk untuk GMF,” ucap Wayan.

Dari tahun 2002, Garuda sudah memercayakan seluruh perawatan armadanya kepada GMF, baik dalam bentuk power by the hour (PBTH) maupun time and material basic. Layanan ini merupakan bagian dari strategi GMF sebagai total solution provider, yang diberikan pula kepada seluruh pelanggan yang memercayakan keseluruhan perawatan armadanya di GMF.

Selain Garuda, yang memercayakan perawatan keseluruhan armadanya kepada GMF, antara lain, Citilink Indonesia dan Sriwijaya Air. Sementara itu, dari lebih 170 pelanggan GMF, pelanggan yang melakukan kontrak jangka panjang (1-2 tahun)), antara lain, Vietjet dari Vietnam, beberapa maskapai penerbangan Korea Selatan, dan KLM dari Belanda.

“Kami memberlakukan equal treatment kepada seluruh pelanggan, juga Garuda. Dengan terus meningkatnya kualitas layanan Garuda, requirement untuk GMF semakin tinggi. Kami pun berkomitmen untuk bisa memenuhinya,” tutur Iwan.

Saat ini, sekitar 66 persen perawatan armada Garuda ditangani GMF. “Kami akan terus meningkatkannya, walaupun tentu tak sampai 100 persen; ditingkatkan sekitar 20 persen lagi,” ucap Iwan.

Hal tersebut juga diharapkan Garuda agar GMF bisa meningkatkan kapabilitas dan kapasitasnya. Menurut Wayan, sampai sekarang, perawatan yang masih ditangani MRO asing adalah perawatan APU (Auxiliary Power Unit) untuk Boeing 777-300ER dan CRJ1000, begitu juga perawatan mesin Roll Royce pesawat A330-300. “Kita mendorong GMF untuk pengembangan dirinya agar bisa memiliki kemampuan yang belum dipunyainya itu,” ujar Wayan.

Garuda dan GMF –keduanya sudah menjadi perusahaan go public (Tbk)– saling mendorong untuk menjadi perusahaan kelas dunia. Kata Iwan, Garuda sebagai maskapai bintang 5 dapat menjadi etalase bisnis GMF untuk mengembangkan usaha, baik ke dalam maupun ke luar negeri. GMF pun terus berupaya untuk meraih lebih besar lagi pasar perawatan maskapai penerbangan di luar Garuda dan Citilink. “Namun demikian, portofolio Garuda sebagai airline kelas dunia pun tetap menjadikan GMF memiliki rekam jejak yang diperhitungkan dalam industri MRO global,” ujarnya.

Be the first to comment

Leave a Reply