​Batik Air Ramaikan Silangit



Prosesi penerbangan perdana Batik Air ke Silangit di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Foto: Reni Rohmawati.

Batik Air terbang ke Bandara Internasional Silangit (DTB) di Siborong-borong, Tapanuli Utara, mulai hari ini (1/12/2017). Penerbangan perdananya pada pukul 09.35 WIB dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta diisi 143 penumpang dengan pesawat Airbus A320-200ceo berkapasitas 162 kursi (12 kelas bisnis, 144 kelas ekonomi). Tiba di Silangit pukul 11.45 dan kembali ke Soekarno-Hatta pukul 12.20 WIB.

“Penumpangnya bagus dan diharapkan nantinya pun load factor-nya 80 persen per penerbangan setiap hari,” kata Edward Sirait, Presiden Direktur Lion Air Group di Cengkareng, Jumat (1/12/2017).

Padahal Batik Air adalah maskapai keempat yang terbang ke Silangit dari Jakarta. Sebelumnya ada Garuda Indonesia dengan pesawat Bombardier CRJ1000 empat kali seminggu dan Sriwijaya Air dengan Boeing 737-500 tiga kali sehari, keduanya terbang dari Soekarno-Hatta, juga Citilink Indonesia dengan pesawat Airbus A320neo setiap hari dari Bandara Internasional Halim Perdanakusuma.

Menurut Edward, Silangit merupakan destinasi penerbangan yang lengkap. “Unik. Yang ke Silangit ini ada penumpang untuk tujuan bisnis, kunjungan keluarga, dan untuk berwisata. Ada multi karakter market untuk tujuan Silangit ini,” ujarnya.

Lion Air Group memilih Batik bukan Lion Air untuk terbang ke Silangit, kata Edward, karena daya beli masyarakatnya cukup bagus. Maka penerbangan ke destinasi ini akan terus dikembangkan, bukan hanya dari Jakarta.

“Kita sudah terbang ke Silangit dari Bandara Kualanamu dengan Wings Air. Sebelumnya, Wings juga pernah terbang dari Batam, tapi stop dulu untuk evaluasi. Mungkin nanti akan terbang dengan pesawat yang lebih besar,” tutur Edward.

Edward menambahkan, selalu ada peluang pasar dengan 15 kabupaten di sekitarnya yang bisa dijangkau lebih cepat dari Silangit. Apalagi nantinya Silangit akan dikembangkan lagi dengan landasan pacu sepanjang 3.000 meter –sekarang 2.650 meter– sehingga bisa diterbangi pesawat-pesawat berbadan lebih besar lagi. “Silangit bisa dikembangkan menjadi hub untuk kawasan Asia Selatan dalam kaitannya dengan pariwisata,” ucapnya.

Dilihat dari peta geografis, dari Silangit ke India, Bangladesh, dan China, cukup prospektif. “Karakter penumpang wisatawan itu unik. Misalnya dari China yang penduduk pegunungan, kita bawa ke pantai, begitu pun sebaliknya. Wisata laut yang dekat Silangit ya ke Nias. Ada 100 destinasi potensial yang akan kami pikirkan, bagaimana memasarkannya ke pasar wisata,” tutur Edward.

Penerbangan Batik ke Silangit, ujar Edward, untuk melayani masyarakar supaya beban Kualanamu tak berat. Di samping itu juga turut serta dalam program pemerintah mengembangkan 10 “Bali Baru”, salah satunya objek wisata Danau Toba, yang lokasinya di Tapanuli Utara.

Be the first to comment

Leave a Reply